INILAH.COM, Jakarta - Masih hangat dalam ingatan, sembilan pejalan kaki tewas ditabrak mobil di Jakarta Pusat. Sejatinya, kendaraan bermotor juga memiliki potensi membahayakan pesepeda.
Tragedi tewasnya sembilan pejalan kaki ditabrak mobil yang dikendarai wanita yang sedang berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang dan alkohol ini jelas sangat memilukan. Pasalnya, semua pejalan kaki ini sedang berjalan di tempat yang sesuai peruntukkannya, yakni trotoar.
Berbagai kecelakaan laulintas lain menunjukkan bahwa kesadaran berlalulintas sebagian pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta sangat rendah. Mereka tak menyadari kendaraan bermotor bisa menjadi alat pembunuh vital jika tak dikendarai secara layak.
Masih segar di ingatan seperti keterangan Bike To Work (B2W) Indonesia, pada Juni 2010, seorang pesepeda bernama Dara ditabrak truk yang ugal-ugalan menyusul truk lain di depannya.
Pengemudi truk yang ternyata diketahui sedang mengantuk itu menyusul truk rekannya yang berada di depannya. Tragedi ini juga menunjukkan kesadaran mengemudi yang rendah di mana kondisi mengantuk sering disepelekan.
Tak hanya itu, kejadian-kejadian semacam ini juga menunjukkan risiko kecelakaan bisa terjadi pada siapapun pengguna jalan. Celakanya, risiko yang bersifat eksternal ini menjadi kian tinggi seiring rendahnya kesadaran berlalu lintas pengguna jalan.
Bagaimanapun kehati-hatian pengguna jalan saat bersepeda, mulai dari persiapan penggunaan alat-alat keselamatan hingga disiplin mematuhi aturan lalu lintas, semua akan sia-sia saat pengguna jalan lain, khususnya pengemudi kendaraan bermotor, tak memiliki kesadaran berlalu lintas yang baik serta mengabaikan semua etika serta aturan berlalu lintas.
Di luar semua faktor eksternal tersebut, pesepeda tak boleh lengah dan selalu waspada serta berhati-hati di jalan. “Dalam kondisi paling waspada sekalipun, risiko ditabrak kendaraan bermotor senantiasa mengincar,” ungkap B2W.
Jika pesepeda tak hati-hati dan mengabaikan perangkat keselamatan diri serta bersepeda secara ugal-ugalan, juga memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibanding bersepeda di trek offroad yang paling ekstrem sekalipun.
Seorang pesepeda downhill yang baik takkan begitu saja meluncur kencang melibas trek tanpa terlebih dahulu melakukan pengenalan pada trek yang akan dilalui. Sadar risikonya, pesepeda downhill akan mengenakan perangkat keselamatan yang diperlukan.
Berbeda, ketika bersepeda di jalan bersama pengguna jalan lain yang lebih besar dan kuat daripada sepeda, bahaya selalu mengintai. Lalu apa semua risiko ini menghambat niat pesepeda bersepeda dalam beraktivitas?
Tentunya tidak, pesepeda harus memahami karakter jalan yang akan dilalui dan mengelola risikonya. Selain itu, ada hal-hal yang sangat bermanfaat untuk dilakukan. Pertama, kenakan pakaian berwarna cerah dan terang agar pengemudi kendaraan bermotor sadar akan kehadiran Anda di jalan.
Kedua, gunakan lampu belakang sesering mungkin dengan alasan sama seperti poin pertama. Ketiga, gunakan jalur paling kiri jalan, tepat di sebelah kanan arus pejalan kaki. Keempat, beri sinyal tangan sebagai tanda meminta jalan.
Kelima, bunyikan bel sesering mungkin untuk menarik perhatian pengguna jalan lain. Keenam, selalu memperhatikan kondisi lalu lintas yang berada jauh di depan, serta di kanan dan kiri. Saat menengok kanan atau kiri, ekor mata juga akan menangkap apa yang ada di belakang.
Ketujuh, maksimalkan pendengaran untuk membantu meningkatkan kewaspadaan dan hindari penggunaan earphone. Kedelapan, selalu siap setiap saat mengerem atau keluar dari jalur bersepeda dengan cepat, misalnya pindah dari jalan aspal ke totoar bila kondisi memaksa.
Kesembilan, perhatikan sikap pengemudi kendaraan di sekeliling. Prediksi apa yang akan mereka lakukan. Lakukan kontak mata dengan pengemudi itu agar mereka sadar kehadiran Anda.
Kesepuluh, kenakan helm, patuhi aturan lalu lintas, serta berdoa sebelum bersepeda.